Sabtu, 01 September 2012

contoh makalah Bahaya Rhodamin B pada Produk Saus

HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Bahaya Rhodamin B Pada Produk Makanan Saus”. Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata pelajaran Biologi. Makalah ini memuat berbagai penjelasan dan pembahasan mengenai rhodamin B dan bahayanya pada produk saus. Penulis juga menjabarkan materi sehingga lebih mudah dipahami dan banyak dibahas dalam pembahasan. Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada : 1. Ibu Singgih Murwani selaku guru Biologi yang telah memberi masukan dan mengarahkan dalam penulisan makalah ini. 2. Teman-teman semua yang mau saling sharing berdiskusi materi 3. . Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amiin. Penulis DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL …………………………………………………… i KATA PENGANTAR …………………………………………………. DAFTAR ISI…………………………………………………………….. ii iii BAB I PENDAHULUAN …………………………………… 1 A. Latar Belakang Masalah….............................................. B. Identifikasi Masalah…………………………………… C. Rumusan Masalah……………………………………… D. Tujuan………………………………………………….. E. Manfaat………………………………………………... 1 1 2 2 2 BAB II LANDASAN MATERI ……………………………… 4 A. Pewarna sintetik………………………………………… B. Pengertian Saus………………………………………… C. Rhodamin B……………………………………………. D. Bahaya Rhodamin B……………………………………E. 4 4 5 5 BAB III ISI ……………………………………………………… 6 A BAB IV BAB V PEMBAHASAN……………………………………..... PENUTUP………………………………………………. 8 14 A. Kesimpulan ………………………………………........... B. Saran ………………………………………………......... 14 14 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….. 16 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia saat ini banyak terjadi permasalahan konsumen pada bidang pangan khususnya, Diantaranya adalah yang paling mengkhawatirkan masyarakat adalah kasus – kasus tentang masalah penyalahgunaan bahan berbahaya pada produk pangan ataupun bahan yang diperbolehkan tetapi melebihi batas yang telah ditentukan. Para produsen biasanya lebih mangutamakan keuntungan yang akan didapat daripada memperhatikan kebaikan produk makanan yang mereka jual bagi kesehatan. Banyak faktor yang dapat menunjang nilai jual suatu produk makanan. Tidak hanya faktor cita rasa, faktor warna juga sangat penting guna menunjang daya jual produk makanan tersebut. Selain menambah mutu makanan, warna juga menambah rasa ketertarikan konsumen pada makanan tersebut. Oleh karena itu, tentu tidak sedikit para produsen yang berusaha meningkatkan mutu produk makanan mereka melalui ketajaman warna yang menarik selain rasa yang lezat. B. Identifikasi Masalah Penggunaan pewarna makanan sudah dikenal sejak dulu, seperti daun suji dan daun pandan untuk warna hijau, kunyit untuk warna kuning, dan daun jati untuk warna merah. Tidak hanya pewarna alami, semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi telah ditemukan berbagai macam pewarna sintetik yang mudah ditemukan, praktis juga murah. Karena berbagai keuntungan tersebut, banyak orang lebih senang memakai zat pewarna sintetik. Disamping kemudahan atau keuntungan yang kita dapatkan dari penggunaan zat pewarna sintetik tentu saja pewarna tersebut tidak baik bagi kesehatan. Zat pewarna sintetik tersebut dapat mengganggu kesehatan bahkan menimbulkan penyakit. Saat ini banyak penyalahgunaan pewarna sintetik pada makanan missal rhodamin B yang seharusnya digunakan untuk pewarna tekstil dan cat digunakan untuk pewarna makanan contohnya saus. Padahal saus adalah makanan pelengkap saat kita mengonsumsi sesuatu. Tidak hanya dikonsumsi orang dewasa, tapi produk saus juga dikonsumsi oleh anak-anak pada jajanan yang sering dijajakan di sekolah-sekolah atau di jalan. Tentu saja hal tersebut sangat berbahaya mengingat apabila saus yang mereka konsumsi mengandung zat pewarna rhodamin B. C. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan zat pewarna sintetik? 2. Apa yang dimaksud dengan rhodamin B? 3. Apa ciri-ciri saus yang mengandung rhodamin B? 4. Bagaimana akibat yang ditimbulkan apabila mengonsumsi saus yang mengandung rhodamin B terhadap kesehatan? D. Tujuan - -Memenuhi tugas penyusunan makalah mata pelajaran biologi - Mengetahui apa itu pewarna sintetik khususnya rhodamin B - Mengetahui cirri-ciri saus yang mengandung rhodamin B - Mengetahui bahaya apabila kita mengonsumsi saus ber-rhodamin B terhadap kesehatan E. Manfaat - Menjadi salah satu media belajar untuk penusunan makalah bagi siswa - Mendapatkan informasi mengenai apa yang dimaksud dengan rhodamin B dan dampaknya terhadap kesehatan. - Menambah pustaka atau bahan bacaan dalam bidang ilmu kesehatan masyarakat khususnya yang menyangkut tantang kandungan pewarna tambahan pada makanan BAB II LANDASAN MATERI A. PEWARNA SINTETIK Pewarna sintetik adalah bahan pewarna yang tidak terdapat di alam melainkan diproduksi secara sintetik, melalui reaksi kimia. Pewarna buatan/sintetik untuk makanan diperoleh melalui proses sintesis kimia buatan yang mengandalkan bahan-bahan kimia, atau dari bahan yang mengandung pewarna alami melalui ekstraksi secara kimiawi. Proses pembuatan zat warna sintetis biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang sering kali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Kelebihan pewarna buatan dibanding pewarna alami adalah dapat menghasilkan warna yang lebih kuat dan stabil meski jumlah pewarna yang digunakan hanya sedikit. Warna yang dihasilkan dari pewarna buatan akan tetap cerah meskipun sudah mengalami proses pengolahan dan pemanasan, sedangkan pewarna alami mudah mengalami degradasi atau pemudaran pada saat diolah dan disimpan. B. PENGERTIAN SAUS Saus merupakan bahan pelengkap yang digunakan sebagai tambahan atau untuk mempersedap makanan. Kata "saus" berasal dari bahasa Perancis (sauce) yang diambil dari bahasa Latin salsus yang berarti “digarami”. Saus dalam istilah masak-memasak berarti cairan yang digunakan sewaktu memasak atau dihidangkan bersama-sama makanan sebagai penyedap atau agar makanan kelihatan bagus. Kebanyakan saus berwarna merah karena terbuat dari cabai atau tomat. Sambal dan kecap manis merupakan saus utama pada sebagian besar masakan Indonesia. Berbicara tentang saos, Mulai dari anak kecil sampai orang dewasa kerap menggunakannya sebagai bahan pelengkap makanan. Rasanya yang pedas menjadikan saos akrab dengan semua kalangan. Banyaknya merek yang ada di pasaran kadang membuat orang bingung untuk memilih mana yang terbaik. Saus bisa berupa buatan pabrik seperti kecap atau saus yang dibuat juru masak sebelum makanan dihidangkan seperti saus asam manis. C. RHODAMIN B Rhodamin B adalah salah satu zat pewarna sintetis yang biasa digunakan pada industri tekstil dan kertas . Zat ini ditetapkan sebagai zat yang dilarang penggunaannya pada makanan melalui Menteri Kesehatan (Permenkes) No.239/Menkes/Per/V/85. Namun penggunaan Rhodamine dalam makanan masih terdapat di lapangan. Contohnya, BPOM di Makassar berhasil menemukan zat Rhodamine-B pada kerupuk, sambak botol, dan sirup melalui pemeriksaan pada sejumlah sampel makanan dan minuman. Rhodamin B ini juga adalah bahan kimia yang digunakan sebagai bahan pewarna dasar dalam tekstil dan kertas. Pada awalnya zat ini digunakan untuk kegiatan histologi dan sekarang berkembang untuk berbagai keperluan yang berhubungan dengan sifatnya dapat berfluorensi dalam sinar matahari. Dalam analisis dengan metode destruksi dan metode spektrofometri, didapat informasi bahwa sifat racun yang terdapat dalam Rhodamine B tidak hanya saja disebabkan oleh senyawa organiknya saja tetapi juga oleh senyawa anorganik yang terdapat dalam Rhodamin B itu sendiri, bahkan jika Rhodamin B terkontaminasi oleh senyawa anorganik lain seperti timbaledan arsen ( Subandi ,1999). Dengan terkontaminasinya Rhodamin B dengan kedua unsur tersebut, menjadikan pewarna ini berbahaya jika digunakan dalam makanan. D. BAHAYA RHODAMIN B Beberapa sifat berbahaya dari Rhodamin B seperti menyebabkan iritasi bila terkena mata, menyebabkan kulit iritasi dan kemerahan bila terkena kulit hampir mirip dengan sifat dari Klorin yang seperti disebutkan di atas berikatan dalam struktur Rhodamin B.Ganguan fungsi Hati atau Kanker hati.Rhodamin B bisa menumpuk dilemak sehingga lama – lama jumlahnya akan terus bertambah.Rhodamin B bisa memicu kanker jika di produksi tahunan. BAB III ISI Rupa memang sangat menunjang nilai jual sutu produk. Sehingga tidak mengherankan banya produsen yang berlomba-lomba mempercantik produk buatan mereka agar cepat laku di pasaran. Faktor warna adalah salah satu yang paling berperan dalam daya jual produk. Produk yang memiliki warna/rupa yang menarik akan lebih menarik konsumen untuk membelinya. Akan tetapi tidak sedikit pula orang yang menggunakan pewarna sintetik untuk mempercantik produk makanan tersebut. Pewarna sintetik adalah bahan pewarna yang tidak terdapat di alam melainkan diproduksi secara sintetik, melalui reaksi kimia. Pewarna buatan/sintetik untuk makanan diperoleh melalui proses sintesis kimia buatan yang mengandalkan bahan-bahan kimia, atau dari bahan yang mengandung pewarna alami melalui ekstraksi secara kimiawi. Sudah banyak produk makanan yang ditemukan mengandung pewarna makanan seperti Fast Green FCF, Amaranth dan yang paling berbahaya adalah Rhodamin B. Contoh kasus yang pernah terjadi baru-baru ini terutama pada bulan puasa adalah ditemukannya produk makanan yang berrodhamin B pada makanan takjil oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar. BBPOM menemukan 7 sampel makanan positif mengandung rhodamin B. Rhodamin B adalah salah satu zat pewarna sintetis yang biasa digunakan pada industri tekstil dan kertas. Tentu saja rhodamin B sangat berbahaya bila dipakai untuk produk makanan. Tidak hanya makanan takjil, rhodamin B juga dipakai untuk produk makanan saus. Hal tersebut dilakukan agar warna merah pada saus lebih terlihat cantik dan menarik bagi konsumen. Akan tetapi sangat berbahaya. Bahaya Rhodamin B seperti menyebabkan iritasi bila terkena mata, menyebabkan kulit iritasi dan kemerahan bila terkena kulit hampir mirip dengan sifat dari Klorin yang seperti disebutkan di atas berikatan dalam struktur Rhodamin B.Ganguan fungsi Hati atau Kanker hati.Rhodamin B bisa menumpuk dilemak sehingga lama – lama jumlahnya akan terus bertambah.Rhodamin B bisa memicu kanker jika di produksi tahunan. Untuk menghindari saus yang berrhodamin B kita adapt mengenalinya dari ciri-ciri berwarna merah mencolok dan cenderung berpendar serta banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen. Ada sedikit rasa pahit (terutama pada sirop atau limun). Muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya. Baunya tidak alami sesuai makanannya.Harganya saus ber rhodamin cenderung murah. BAB IV PEMBAHASAN A. Pengertian zat pewarna makanan sintetik Bahan pewarna makanan terbagi dalam dua kelompok besar yakni pewarna alami dan pewarna buatan/sintetik. Pewarna makanan alami yaitu bahan pewarna yang didapat atau tersedia di alam yang sifatnya alami. Sedangkan pewarna sintetik adalah bahan pewarna yang tidak terdapat di alam melainkan diproduksi secara sintetik, melalui reaksi kimia. Di Indonesia, peraturan mengenai penggunaan zat pewarna yang diizinkan dan dilarang untuk pangan diatur melalui SK Menteri Kesehatan RI Nomor 722/Menkes/Per/IX/88 mengenai bahan tambahan pangan. Di Amerika Serikat, bahan pewarna golongan ini harus diuji untuk kemurniannya dan diberi sertifikat setiap batchnya, sebelum diijinkan dijual ke pasar. Pewarna alami diperoleh dari tanaman ataupun hewan yang berupa pigmen. Beberapa pigmen alami yang banyak terdapat di sekitar kita antara lain: klorofil (terdapat pada daun-daun berwarna hijau), karotenoid (terdapat pada wortel dan sayuran lain berwarna oranye-merah). Umumnya, pigmen-pigmen ini bersifat tidak cukup stabil terhadap panas, cahaya, dan pH tertentu. Walau begitu, pewarna alami umumnya aman dan tidak menimbulkan efek samping bagi tubuh. Pewarna buatan untuk makanan diperoleh melalui proses sintesis kimia buatan yang mengandalkan bahan-bahan kimia, atau dari bahan yang mengandung pewarna alami melalui ekstraksi secara kimiawi. Proses pembuatan zat warna sintetis biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang sering kali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Kelebihan pewarna buatan dibanding pewarna alami adalah dapat menghasilkan warna yang lebih kuat dan stabil meski jumlah pewarna yang digunakan hanya sedikit. Warna yang dihasilkan dari pewarna buatan akan tetap cerah meskipun sudah mengalami proses pengolahan dan pemanasan, sedangkan pewarna alami mudah mengalami degradasi atau pemudaran pada saat diolah dan disimpan. B. Pengertian zat pewarna sintetik Rhodamin B Rhodamin B merupakan zat warna sintetis berbentuk serbuk kristal , tidak berbau, berwarna merah keunguan, dalam larutan berwarna merah terang berpendar (Berflurosensi). Rhodamin B adalah salah satu zat pewarna sintetis yang biasa digunakan pada industri tekstil dan kertas . Zat ini ditetapkan sebagai zat yang dilarang penggunaannya pada makanan melalui Menteri Kesehatan (Permenkes) No.239/Menkes/Per/V/85. Di dalam Rhodamin B sendiri terdapat ikatan dengan klorin ( Cl ) yang dimana senyawa klorin ini merupakan senyawa anorganik yang reaktif dan juga berbahaya. Rekasi untuk mengikat ion klorin disebut sebagai sintesis zat warna. Disini dapat digunakan Reaksi Frield- Crafts untuk mensintesis zat warna seperti triarilmetana dan xentana. Rekasi antara ftalat anhidrida dengan resorsinol dengan keberadaan seng klorida menghasilkan fluoresein. Apabila resorsinol diganti dengan N-N-dietilaminofenol, reaksi ini akan menghasilkan rhodamin B. Nama lain dari atau sinonim / nama dagang dari Rhodamin B adalah : • CTetra ethyl rhodamin. • CRheonine B. • CD & C Red No. 19. • CC.I. Basic Violet 10.C.I. No.45179. Selain terdapat ikatan Rhodamin B dengan Klorin terdapat juga ikatan konjugasi. Ikatan konjugasi dari Rhodamin B inilah yang menyebabkan Rhodamin B bewarna merah. Ditemukannya bahaya yang sama antara Rhodamin B dan Klorin membuat adanya kesimpulan bahwa atom Klorin yang ada pada Rhodamin B yang menyebabkan terjadinya efek toksik bila masuk ke dalam tubuh manusia. Atom Cl yang ada sendiri adalah termasuk dalam halogen, dan sifat halogen yang berada dalam senyawa organik akan menyebabkan toksik dan karsinogen. Beberapa sifat berbahaya dari Rhodamin B seperti menyebabkan iritasi bila terkena mata, menyebabkan kulit iritasi dan kemerahan bila terkena kulit hampir mirip dengan sifat dari Klorin yang seperti disebutkan di atas berikatan dalam struktur Rhodamin B. Penyebab lain senyawa ini begitu berbahaya jika dikonsumsi adalah senyawa tersebut adalah senyawa yang radikal. Senyawa radikal adalah senyawa yang tidak stabil. Dalam struktur Rhodamin kita ketahui mengandung klorin (senyawa halogen), sifat halogen adalah mudah bereaksi atau memiliki reaktivitas yang tinggi maka dengan demikian senyawa tersebut karena merupakan senyawa yang radikal akan berusaha mencapai kestabilan dalam tubuh dengan berikatan dengan senyawa-senyawa dalam tubuh kita sehingga pada akhirnya akan memicu kanker pada manusia. Klorin sendiri pada suhu ruang berbentuk sebagai gas. Sifat dasar klorin sendiri adalah gas beracun yang menimbulkan iritasi sistem pernafasan. Efek toksik klorin berasal dari kekuatan mengoksidasinya. Bila klorin dihirup pada konsentrasi di atas 30ppm, klorin mulai bereaksi dengan air dan sel-sel yang berubah menjadi asam klorida (HCl) dan asam hipoklorit (HClO). Ketika digunakan pada tingkat tertentu untuk desinfeksi air, meskipun reaksi klorin dengan air sendiri tidak mewakili bahaya utama bagi kesehatan manusia, bahan-bahan lain yang hadir dalam air dapat menghasilkan disinfeksi produk sampingan yang dapat merusak kesehatan manusia. Klorit yang digunakan sebagai bahan disinfektan yang digunakan dalam kolam renang pun berbahaya, jika terkena akan mennyebabkan iritasi pada mata dan kulit manusia. C. Pewarna dalam produk saus Pewarna makanan merupakan bahan tambahan pangan yang dapat memperbaiki penampakan makanan. Penambahan bahan pewarna makanan mempunyai beberapa tujuan, di antaranya adalah • memberi kesan menarik bagi konsumen, • menyeragamkan dan menstabilkan warna, • serta menutupi perubahan warna akibat proses pengolahan dan penyimpanan. Secara garis besar pewarna dibedakan menjadi dua, yaitu pewarna alami dan sintetik. Pewarna alami yang dikenal di antaranya adalah daun suji (warna hijau), daun jambu/daun jati (warna merah), dan kunyit untuk pewarna kuning. Kelemahan pewarna alami ini adalah warnanya yang tidak homogen dan ketersediaannya yang terbatas, sedangkan kelebihannya adalah pewarna ini aman untuk dikonsumsi. Jenis yang lain adalah pewarna sintetik. Pewarna jenis ini mempunyai kelebihan, yaitu warnanya homogen dan penggunaannya sangat efisien karena hanya memerlukan jumlah yang sangat sedikit. Akan tetapi, kekurangannya adalah jika pada saat proses terkontaminasi logam berat, pewarna jenis ini akan berbahaya. Selain itu, khusus untuk makanan dikenal pewarna khusus makanan (food grade). Padahal, di Indonesia, terutama industri kecil dan industri rumah tangga, makanan masih sangat banyak menggunakan pewarna nonmakanan (pewarna untuk pembuatan cat dan tekstil). Rhodamin-B dan metahnyl yellow merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang dilarang penggunaannya dalam makanan menurut peraturan Menteri Kesehatan (Menkes) Nomor 1168/Menkes/PER/X/1999. Efek negatifnya yaitu dapat menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan bersifat mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel/jaringan), serta orang yang mengonsumsinya akan muntah, diare bercampur darah, kencing bercampur darah, dan kematian yang disebabkan adanya kegagalan peredaran darah. Bila menguap di udara, berupa gas yang tidak berwarna, dengan bau yang tajam menyesakkan, sehingga merangsang hidung, tenggorokan, dan mata. Rhodamin B berbentuk serbuk kristal merah keunguan dan dalam larutan akan berwarna merah terang berpendar. Zat itu sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit, mengenai mata dan tertelan. Dampak yang terjadi dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, iritasi saluran pencernaan dan bahaya kanker hati. Apabila tertelan dapat menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan dan air seni akan berwarna merah atau merah muda. Penyebarannya dapat menyebabkan gangguan fungsi hati dan kanker hati. Penyalahgunaan rhodamin B untuk pewarna makanan telah ditemukan untuk beberapa jenis pangan, seperti kerupuk, terasi, dan jajanan yang berwarna merah terang. D. Ciri-ciri saus ber-rhodamin B Ciri-ciri saus yang mengandung pewarna rhodamin B antara lain berwarna merah mencolok dan cenderung berpendar serta banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen. Ada sedikit rasa pahit (terutama pada sirop atau limun). Muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya. Baunya tidak alami sesuai makanannya.Harganya Murah seperti saus yang cuma dijual Rp. 800 rupiah per botol. E. Dampak negatif rhodamin B bagi kesehatan Telah kita ketahui bah zat pewarna sintetik khususnya rhodamin B sudah dilarang penggunaannya. Akan tetapi masih ada saja oknum produsen yang menambahkan zat pewarna berbahaya ini ke dalam produk makanan mereka termasuk pada saus. Dengan mengonsumsi saus yang ber-rhodamin B tentu sangat berbahaya. Rhodamin B memiliki toksisitas yang rendah, namun pengkonsumsian dalam jumlah yang besar maupun berulang-ulang dapat mengakibatkan dampak negatif bagi tubuh, antara lain : • Sifat kumulatif yaitu iritasi saluran pernafasan, iritasi kulit, iritasi pada mata, iritasi pada saluran pencernaan, keracunan, dan gangguan hafi/liver • Jika terhirup, mengenai kulit, mengenai mata dan tertelan. Dampak yang terjadi dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, iritasi saluran pencernaan dan bahaya kanker hati Jika terkena mata dapat menimbulkan iritasi pada mata, mata kemerahan, pada kelopak mata. • Jika tertelan dapat menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan dan air seni akan berwarna merah atau merah muda. Penyebarannya dapat menyebabkan gangguan fungsi hati dan kanker hati • Jika sudah masuk dalam tubuh kita dia akan mengendap pada jarigan hati dan lemak,tidak dapat di keluarkan. dalam jangka waktu lama bisa bersifat karsinogenik (penyebab kanker) • Bila dikonsumsi bisa menyebabkan gangguan pada fungsi hati, bahkan kanker hati. Bila mengonsumsi makanan yang mengandung rhodamin B, dalam tubuh akan terjadi penumpukan lemak, sehingga lama-kelamaan jumlahnya terus bertambah. Dampaknya baru akan kelihatan setelah puluhan tahun kemudian. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Tampilan memang sangat penting guna menunjang nilai jual. Penambahan zat pewarna pada makanan dilakukan untuk memberi kesan menarik bagi konsumen, menyeragamkan warna makanan, menstabilkan warna dan menutupi perubahan warna selama penyimpanan. Banyak pewarna makanan sintetik yang telah terbukti berbahaya bagi kesehatan misalnya Rhodamin B yang mempunyai efek racun, berisiko merusak organ tubuh dan berpotensi memicu kanker. Namun demikian masih banyak produsen makanan, terutama pengusaha kecil, yang menggunakan zat-zat pewarna yang dilarang dan berbahaya bagi kesehatan karena mereka hanya memikirkan keuntungan tanpa memikirkan dampak bagi kesehatan konsumennya. B. Saran Lebih baik para produsen beralih menggunakan pewarna makanan alami seperti ekstrak daun suji, kunyit, ekstrak buah-buahan yang tentu saja lebih aman. Di samping itu masih ada pewarna alami yang diijinkan digunakan dalam makanan antara lain caramel, beta-karoten, klorofil dan kurkumin. Selain itu, diharapkan produsen lebih mengutamakan kesehatan konsumennya daripada hanya mementingkan keuntungan yang besar, dan sebagai konsumen kita harus selektif dan pandai memilah makanan mana yang baik bagi kesehatan. DAFTAR PUSTAKA http://catatankimia.com/catatan/bahan-pewarna-makanan.html http://majalahkesehatan.com/bahaya-efek-samping-pewarna-buatan/ http://informasisehat.wordpress.com/2009/05/21/bahaya-zat-pewarna-pada-makanan/ http://al-om.blogspot.com/2009/12/rhodamin-b.html http://dutakita.com/kesehatan/342-pewarna-makanan-bahaya-penggunaan-rhodamine-b-sebagai-pewarna-makanan Karnoto, Bambang K, dkk. 2012. SPM Plus Seri Pendalaman Materi. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar